Mari mulai blog ini dengan cerpen yang pernah gw tulis hampir setahun yang lalu. Gw udah lama pingin share cerpen ini..baru sekarang terlaksana. akibat apa...malas. please get away you lazy...
Silahkan membaca...
Rusman memilih duduk di tepian trotoar
yang teduh oleh rindangnya pohon akasia. Menikmati pemandangan kendaran yang
melintas dan menghirup debu yang dihasilkannya. Memandangi wajah-wajah serius
orang-orang dengan segala keruwetan pikiran yang berbeda-beda, Rusman bahkan
sudah hapal betul siapa-siapa saja wajah yang akan berlalu pada jam-jam
tertentu. Kota ini adalah kota yang sederhana, dengan pembangunan yang juga
cenderung sederhana, berbanding terbalik dengan sumber daya alam melimpah yang
dimilikinya. Tapi hidup tidak demikian berlaku pada Rusman disini.
Ketika lampu merah menyala, ia
dengan sigap berdiri, menghampiri para pengendara yang berhenti sambil
menawarkan tumpukan korannya. Hari ini hanya laku sedikit. Untuk sebuah kota
dengan tingkat kegemaran membaca rendah seperti ini, Rusman mungkin sudah
memilih pekerjaan yang salah. Tapi itulah mungkin satu-satunya pilihan yang
terlihat olehnya.
“Koran pak...korannya pak...,” ia
meliuk-liuk diantara rapatnya kendaraan yang berhenti. “Koran
bu...koran-korannya bu. Seorang nenek hilang diterkam buaya...” Katanya sambil
memperlihatkan gambar buaya yang begitu besar, terpampang menjadi headline di
sebuah surat kabar lokal hari itu. Rusman berdiri memamerkan gambar headline
surat kabar itu lebih lama di depan sebuah mobil, beberapa detik hingga ia
yakin benar-benar tidak ada respon dari si empunya mobil.
Enam
puluh detik lampu merah selalu terasa sangat cepat bagi Rusman. Dia berdiri
rapat-rapat pada pembatas jalan, sementara kendaraan mulai berjalan menuju
tujuan masing-masing. Siku kanannya yang masih terasa linu mengingatkannya,
bahwa ia harus serapat mungkin dengan pembatas jalan, ia harus seperti tidak
ada di tengah-tengah lalu lintas jalanan yang padat di siang hari. Karena
orang-orang ini lebih mengganggapnya tidak ada, melajukan kendaran dengan tidak
mengindahkan keberadaannya. Rusman sudah terbiasa.
Rusman cepat-cepat menyebrang,
kembali berlindung dari teriknya matahari di bawah pohon akasia. Duduk di sana,
menghitung lagi jumlah eksemplar koran yang berada dalam pelukannya. “Sudah jam
berapa, wan?” tanya Rusman kepada Marwan, sahabatnya sesama penjual koran di
lampu merah.
Marwan duduk disebelahnya, memeluk
setumpuk koran dan tampak kepayahan. “Sudah jam sebelas, Man.” Jawab Marwan
sambil memincingkan mata, melihat ke arah sebuah jam dinding di toko roti di
belakang mereka. Aroma harum rotinya sangat menyiksa, sementara perut kedua
bocah ini belum terisi apa-apa sedari pagi. Roti adalah salah satu mimpi yang
tidak tergapai bagi mereka.
“Ayo kita keliling di rumah sakit
saja,” ajak rusman. Apabila hingga menjelang siang pun koran mereka belum habis
terjual,mereka biasanya berkeliling ke beberapa tempat, ke rumah sakit, ke
terminal, atau ke kantor kecamatan tempat banyak orang mengantri untuk
pembuatan KTP. Di rumah sakit mereka akan berkeliling di setiap lorong,
menawarkan koran mereka diantara para keluarga pasien yang sedang menunggui
atau sekedar berkunjung.
Kali ini Rusman dan Marwan sedang
sangat tidak beruntung. Mereka masing-masing memeluk setumpuk koran yang masih
belum laku, tidak yakin ini akan habis semuanya. Sepertinya kali ini harus
berkeliling lebih jauh dan ke lebih banyak tempat. Berusaha tidak mengembalikan
sisanya ke agen, karena itu berarti upah yang sangat sedikit.
“Kita ke terminal aja dulu, man. Aku
sudah lapar banget, makan dulu disana. Habis itu baru kita keliling. Kalau
belum habis, baru ke rumah sakit.” Marwan berusaha membujuk Rusman.
“Sabar lah dulu wan, kita keliling
ke rumah sakit sebentar, jam 12 baru kita ke terminal. Nanti keburu rumah sakit
sepi.” Rusman meyakinkan Marwan. “Sabar yaa...” Rusman mengerti benar rasa
lapar yang dirasakan sahabatnya ini, perutnya sendiri sudah perih. Tadi pagi
hanya minum teh hangat yang dibuat ibunya sebelum pergi jualan sayur keliling.
Sungguh perutnya sudah sangat melilit kelaparan.
“Makan di rumah sakit sajalah kita,
lapar banget aku, Man.” Marwan terus meminta Rusman mengerti betapa laparnya
dia saat ini. Meskipun mereka tau makanan di rumas sakit lebih mahal, sementara
di terminal, makanan segala rupa banyak dan murah-murah.
“Uang ku ga cukup, makan di rumah
sakit mahal wan. Sabar lah ya...koran kita harus habis.” Rasa lapar yang sangat
ini justru memompa semangat Rusman. “kita makan tek-tek di terminal, enak lah
itu wan. Gak mau kamu?” Goda Rusman.
“Aku makan apa saja kalo lapar
begini.” Jawab marwan.
Mereka meninggalkan rindangnya pohon
beringin, berjalan di pinggiran jalan. Melangkah gontai sambil menatapi aspal
yang memancarkan panas, sendal jepit kotor yang hampir aus. Baju kaos bersih
yang tadi dipakai sudah basah oleh keringat, kusam oleh matahari yang menerpa
setiap hari, dan kotor oleh debu jalanan. Tapi disanalah mereka harus
menghabiskan waktu sepanjang pagi menjelang siang, untuk mendapatkan uang
beberapa. Sekedar menambah keperluan keluarga, dan bagi Rusman untuk
memperjuangkan sekolah adiknya.
Sering kali mereka merasa malu kalau
harus berjualan koran di lampu merah pada pagi hari, waktu dimana anak sekolah
berduyun-duyun berangkat ke sekolah. Melihat anak-anak lain yang jauh lebih
beruntung dari mereka mengenakan seragam, diantar oleh orang tua mereka
menggunakan sepeda motor atau biasanya bersepeda sendiri. Rusman dan Marwan
kadang bingung harus memasang ekspresi bagaimana, mereka hanya terang-terangan
memandangi seragam sekolah yang dikenakan teman-temannya. Seragam adalah salah
satu mimpi yang tidak tergapai oleh mereka. Mereka memimpikannya nyaris setiap
malam.
Sementara untuk menghadapi tatapan
iba dan beberapa meremehkan, bahkan ada yang merasa sangat terganggu dengan kehadiran
mereka di lampu merah, Rusman dan marwan, bocah penjual koran seperti mereka
lebih memilih tak acuh. Kerasnya kehidupan yang seharusnya belum mereka rasakan
sudah merenggut ekpresi polos dari wajah mereka. Itu adalah sebuah perampasan
yang kejam. Mereka lebih menyukai rombongan pegawai kantor yang berseragam
rapi, membawa tas branded KW, berdandan menor, memakai wangi-wangian menyengat,
berusaha memperlihatkan betapa sukses dan makmurnya mereka. Ekspresi si makmur
ini acuh tak acuh terhadap mereka, bahkan tidak pun melirik, iba barang
sedikit. Pandangan mereka lurus kedepan, menatap lampu merah tanpa berkedip,
tancap gas bahkan sebelum lampu hijau benar-benar menyala, sangat tergesa-gesa.
Si makmur ini, dunianya hanya berisi mereka, aku...aku...dan aku. Mereka lupa
memperhatikan lingkungan, sekitar, mereka lupa peduli.
Ingin menjadi kuli di pasar, mereka
masih bocah, tubuh pun masih kecil, belum bisa angkut-angkut barang pasar yang
berat-berat. Tapi hanya bermain seharian selayaknya bocah-bocah kaya pun mereka
tidak bisa. Ada kewajiban yang tersirat oleh miskinnya keadaan keluarga.
Meskipun orang tua Rusman dan Marwan tidak pernah menyuruh mereka bekerja, pun
mereka tidak pernah dilarang untuk melakukannya. Keadaan ekonomi menjadi
semakin berat semakin hari.
Rusman dan Marwan sampai di rumah
sakit, harus masuk secara diam-diam ke dalam lingkungan rumah sakit apalagi
sampai ke ruang rawat inap pasien. Paling tidak jangan mencolok satpam,
sehingga satpam bisa pura-pura tidak melihat dan membiarkan mereka masuk.
Biasanya mereka di beri waktu satu jam, kemudian pak satpam akan meninggalkan
pos jaganya di pintu masuk dan berkeliling ke dalam lingkungan rumah sakit.
Memburu mereka keluar.
Rusman dan Marwan berpencar ke
tempat yang berbeda, berusaha menghabiskan koran di pelukannya yang harus laku.
Mereka menawarkan koran dengan santun, suara pelan, mendekati satu demi satu
orang yang terlihat duduk termenung di selasar ruang inap pasien, biasanya
bapak-bapak. Sementara perut yang semakin melilit, mereka harus tetap sabar
berkelilng lingkungan rumah sakit yang cukup luas, mendatangangi calon pembeli
dengan harapan akan dibeli. Setiap satu eksemplar yang terjual adalah sangat
berarti.
Setelah satu jam, Rusman dan Marwan
bertemu di dekat pintu keluar, berjalan cepat tapi tenang dan acuh tak acuh
melewati pos satpam. Koran Rusman laku tiga, koran Marwan tidak ada yang laku.
Marwan terlihat semakin kesal dengan sepelukan penuh koran yang tidak kunjung
laku ini. Laparmya menjadi-jadi.
“Ayolah kita makan dulu saja di
terminal.” Rusman berusaha menyemangati sahabatya.
Mereka kembali melanjutkan berjalan
kaki ke arah terminal. Lampu merah rumah sakit terminal dan kantor kecamatan
adalah tempat-tempat yang sehari-harinya mereka datangi. Berjalan kaki
berkilo-kilometer jauhnya bukan lagi menjadi soal, meskipun panas terik dan
perut keroncongan. Pada jam-jam yang mana seharusnya mereka mengenakan seragam
sekolah dan berada di sekolah untuk belajar, sebaliknya mereka malah
berkeliaran di jalan. Mengambil bagian, berpartisipasi mengumpulkan uang untuk
keluarga, diperkosa ekonomi setiap hari. Untuk sekedar makan, penghasilan ibu Rusman
memang mencukupi, tapi dia memiliki adik perempuan yang masuk Sekolah Dasar,
sekarang kelas dua. Sungguhpun biaya pendidikan tidak pernah gratis seperti
yang dijanjikan negara ini.
Rusman dan marwan berjalan lebih
perlahan dan dengan langkah dseret-seret ketika hampir tiba di gerbang masuk
terminal, melewati warung Bule Jum yang baik hati sekali pada mereka. warung
Bule Jum menjual aneka lauk, nasi campur, masakannya enak. Warungnya kecil
saja, hanya berukuran 4 kali 4 plus dapur dan tempat cuci. Terbuat dari kayu,
sudah puluhan tahun Bule Jum jualan nasi campur, dulunya di dalam terminal,
kemudian tergusur. Bule Jum juga baik hati, sering kali mereka diberi makan
gratis. Kalau sedang sangat lapar dan tidak punya uang sama sekali Rusman dan Marwan
akan duduk di pinggiran jalan seberang warung Bule Jum, agar dilihat olehnya,
kemudian dipanggil dan disuguhi nasi campur yang enak sekali, plus gratis. Atau
ketika mereka berjalan kaki melintasi depan warung Bule Jum, mereka akan
dipanggil, itu kalo Bule Jum sedang tidak terlalu sibuk melayani banyak
pembeli.
Warung Bule Jum sedang sepi pembeli,
dan berkat suara seretan sendal jepit mereka, mereka berhasil menarik perhatian
Bule Jum yang sedang mengulek sambel.
“Maaann, Waaaann.., masuk sini leee.” Bule Jum tersenyum. Sering kali dia
menangis menyaksikan betapa perjuangan kedua bocah berumur sepuluh tahun ini
terlalu berat. Cukup jika hanya mereka sedih dan malu karena tidak mampu
bersekolah, tapi juga mereka rela bekerja, berkeliaran di jalan berjualan
koran, dari pagi-pagi sekali hingga siang.
Rusman dan Marwan tidak akan
berpura-pura tidak mendengar panggilan Bule Jum dari dalam warung. Walaupun
merasa malu karena terlalu sering diberi makan gratis, tapi perut yang lapar
sudah mengalahkan perasaan itu. Sambil tersenyum-senyum mereka berjalan masuk
ke warung dan mendatangi dapur tempat Bule Jum berada. “Iya bule...perlu
bantuan?” Marwan basa-basi.
“Iya bule minta tolong dibelikan
aqua botol tanggung di warung depan. Tapi makan dulu ya, bule masak tempe bacem
kesukaan kalian, tambah ayam goreng mau?” Bule Jum memang sering meminta
bantuan-bantuan kecil kepada Marwan dan Rusman, agar sekedar mereka tidak
terlalu merasa sungkan karena diberi makan gratis.
“Gratis kan bule?” Rusman kali ini
yang berbasa-basi. Meskipun tau benar mereka tidak pernah membayar kalau makan
disini.
“Haalaaahh, uang kalian gak laku di
warung bule. Bule gak percaya uang kalian asli.” Canda Bule Jum. “Sudah duduk
sana. Minumnya es teh kan?” menunjuk pada meja kursi makan di paling pojok
ruangan.
Rusman dan Marwan patuh, segera
duduk dengan manis menunggu ayam goreng dan tempe bacem kesukaan mereka. Tidak
selang beberapa menit Bule Jum datang mengantarkan dua piring penuh makanan yang
dijanjikan plus es teh manis. Marwan dan Rusman tidak malu-malu melahapnya,
Bule Jum memang yang terbaik. Selamatlah beberapa ribu uang mereka yang tadinya
akan dibelikan tahu tek-tek, malah dapat nasi campur ayam goreng dan tempe
bacem super enak dari Bule Jum. Begini sudah merupakan rezeki besar bagi mereka
berdua.
Bule Jum tau sepring nasinya sangat
membantu beban kedua bocah ini, menghibur mereka ditengah kesusahan hati karena
koran-koran mereka hanya laku sedikit. Bule Jum juga diam-diam merasakan
bahagia dari senyum kekenyangan kedua bocah ini setelah selesai menyantap
sepiring penuh makanan yang diberikannya. Kedua bocah ini, Rusman dan Marwan
adalah favoritnya, tidak kenal menyerah menawarkan korannya di lampu merah
hingga siang hari, memilih tidak mengemis untuk mendapatkan uang. Padahal banyak
pemuda bahkan orang tua yang justru tanpa malu melakukannya.
Bagi Bule Jum sepiring nasi ini
tidaklah berat, bagi Rusman dan Marwan sepiring nasi ini adalah penyelamat dan
penyemangat mereka hari ini.
Selesai melahap makanan itu, mereka
memenuhi janji menolong Bule Jum membeli aqua di warung seberang. Rusman
menawarkan bantuan yang lain kepada Bule Jum, tapi Bule Jum sedang tidak
membutuhkannya. Rusman dan Marwan duduk sebentar di depan warung Bule Jum,
menikmati perut kenyang sekaligus menunggu kalau saja Bule Jum akan membutuhkan
pertolongan mereka.
Anehnya setelah keluar dari warung
Bule Jum dengan perut kenyang, Rusman dan Marwan merasa dunia yang ditempatinya
menjadi berbeda. Udara yang dihirup terasa lebih nyata di paru-paru mereka,
matahari siang terlihat cerah alih-alih panas memanggang, dan ekspresi
orang-orang ini di sekeliling mereka lebih bersahabat. Semangat kembali
merasuki tubuh, hanya dengan sepiring nasi campur. Mungkin kalau yang dimakan
bukan nasi campur Bule Jum, perasaan ini tak akan ada. Atau mungkin bukan
sepiring nasinya, bukan itu tepatnya.
Rusman dan Marwan berpamitan dan
mengucapkan terima kasih pada Bule Jum, mereka harus melanjutkan berkeliling di
terminal untuk menghabiskan koran-koran ini dengan langkah terasa lebih ringan
dari sebelumnya. Tenaga dan semangat terbarukan.
Langkah–langkah dari kaki kecil ini masih sangat panjang.
Kehidupan di depan mungkin lebih berat bagi bocah-bocah ini tanpa bekal
pendidikan. Lebih berat lagi tanpa kepedulian orang lain terhadap nasib mereka.
Rusman dan Marwan dan bocah-bocah lainnya yang bernasib sama memerlukan
kepedualian orang lain, memerlukan lebih banyak ‘Bule Jum’ di kehidupan mereka.
